Sejarah SMSR

Sejarah SMSR Yogyakarta

Berbicara sejarah SMSR Yogyakarta tidak dapat lepas dari nama besar ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia) yang berdiri di Yogyakarta pada 1950. Peserta didik ASRI terdiri dari dua jenjang, yaitu lulusan SMP dan lulusan SLTA. Lama pendidikan bagi lulusan SMP adalah 3 tahun dan setelah tamat mendapatkan Ijasah I (merupakan embrio SMSR). Bagi yang ingin melanjutkan ke jenjang berikutnya harus menempuh 2 tahun lagi, dan mendapatkan Ijasah II (setara akademi).

ASRI membuka 5 jurusan, yaitu:

1. Seni Lukis

2. Seni Patung

3. Pertukangan / Kerajinan

4. Reklame, Dekorasi, Ilustrasi Grafik

5. Pendidikan Guru Seni Rupa

Lulusan SMP hanya diperbolehkan masuk di jurusan Seni Lukis, Seni Patung, dan Pertukangan/Kerajinan. Sedangkan dua jurusan lainnya diperuntukkan bagi lulusan SLTA.

Tahun 1957 ASRI menempati gedung baru di Jl Gampingan 1 Yogyakarta, pindah dari kampus pertamanya di kawasan Bintaran.

Tahun 1963 muncul gagasan untuk memisahkan peserta didik lulusan SLTP dan SLTA. Dualistis pendidikan ASRI (tingkat akademis dan tingkat menengah) tidak dapat dipertahankan lagi. ASRI harus menjadi akademi sepenuhnya. Sementara pendidikan tingkat menengah di ASRI dipisahkan menjadi Sekolah Seni Rupa Indonesia (SSRI).

5 April 1963 keberadaan SSRI Yogyakarta diresmikan dengan Surat Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No 3 / Men P&K/1963 (?), merupakan penjelmaan dari 3 jurusan di ASRI, yaitu (1) Seni Lukis, (2) Seni Patung, dan (3) Kerajinan. Pada saat diresmikan, SSRI sudah memiliki 3 jurusan dan siswa tingkat I, II, dan III. Siswa tingkat III menjadi lulusan pertama SSRI . Pimpinan sekolah dipegang oleh sebuah Direktorium yang terdiri atas 3 orang, yaitu: Subagyo, Setyadi, dan Suhardjo MS. Semua tenaga pengajar masih berstatus sebagai pengajar ASRI. Setahun kemudian (1964) beberapa pengajar diangkat menjadi guru tetap SSRI, antara lain: Subagyo, Setyadi, Suhardjo MS, Soelardi, M. Soedarmo, Djokohardjono, dan Mulyadi. Tenaga Tata Usaha dikepalai oleh R. Subagyo. Semua staf TU adalah tenaga honorer atau berstatus tenaga ASRI.Gedung dan peralatan pendidikan masih menjadi satu dengan ASRI sehingga proses belajar-mengajar dilaksanakan sore hari di gedung ASRI Gampingan.

Pimpinan SSRI dalam bentuk Direktorium hanya berlangsung 1 tahun. Pada 1964 Subagyo diangkat menjadi Direktur pertama SSRI Yogyakarta. Karena kesehatannya maka pada 1965 ia digantikan Setyadi sebagai Direktur ke dua sampai 1975. Pengganti Direktur berikutnya adalah Suhardjo Ms.

Tahun 1974 ada pembaruan kurikulum yang dikenal dengan Kurikulm 1974. Perubahan mendasar adalah:

- Lama pendidikan 4 tahun

- Jurusan-jurusan pada Kurikulum 1963 dihapus dan digantikan dengan Studio-studio Praktek Seni Rupa yang terdiri 9 macam, yaitu:

(1) Studio Seni Lukis;

(2) Studio Seni Patung;

(3) Studio Seni Kriya Kayu;

(4) Batik;

(5) Reklame;

(6) Dekorasi;

(7) Ilustrasi;

(8) Grafik; dan

(9) Keramik.

Tahun 1976 SSRI dan sekolah kesenian lainnya dimasukkan ke kelompok Sekolah Kejuruan, sama dengan STM, SMEA, SMIK, dsb. 

Tahun 1977 nama SSRI disesuaikan menjadi SMSR (Sekolah Menengah Seni Rupa), sekaligus menerapkan Kurikulum baru yang dinamai "Kurikulum 1977." 

Pembangunan gedung SMSR di Karangmalang belum sepenuhnya selesai, baru sekitar 50%, namun tanpa menunggu selesai, SMSR pindah ke kampus baru di Karangmalang, berdekatan dengan kampus ASTI dan IKIP Negeri. Waktu belajar dilaksanakan pagi hari mulai jam 07.00.

Perhatian Direktorat Dikmenjur terhadap pengembangan sekolah-sekolah kesenian di DIY sangat besar. Muncul gagasan mempersatukan tiga sekolah, SMKI, SMM, dan SMSR.

Tahun 1978 mulai diadakan survei lahan di kawasan Bugisan. Tiga tahun kemudian (1981) mulai dibangun kampus besar di kampung Jomegatan, Jl PG Madukismo (lebih dikenal sebagai Jl Bugisan), masuk di wilayah Kecamatan Kasihan, Kabupaten Bantul.

Pada 1977 berganti nama menjadi Sekolah Menengah Seni Rupa (SMSR) Yogyakarta. Nama inilah yang terasa akrab di kalangan masyarakat yang mempunyai hubungan emosional dengan sekolah seni rupa. Pada tahun 1997 secara nasional semua pendidikan Menengah Kejuruan berganti nama menjadi SMK. Karena berada di Kecamatan Kasihan maka SMSR berubah menjadi SMK Negeri 3 Kasihan Bantul. 

[yeste]